Budi Daya Kemiri Sunan - Tanaman Bio Energi

Budi Daya Kemiri Sunan – Tanaman Bio Energi

Budidaya Kemiri Sunan

Budi Daya Kemiri Sunan - Tanaman Bio Energi

Budidaya Kemiri Sunan – perawatan, pembibitan, analisis, stek, gambar – Kebiasaan tanaman kemiri sunan adalah pohon berbentuk tajuk, kadang juga silindris, tinggi pohon bisa mencapai 15-20 m dengan diameter batang > 40 cm, dan sistem Root itu dalam (Heyne, 1987). Sistem percabangan pada Kemiri Sunan adalah khas, bercabang menyamping di tiga tempat atau lebih (Herman dan Pranowo, 2009). Daun dengan jumlah 13-21 daun tumbuh pada setiap cabang. Pada saat musim berbunga, biasanya pada akhir musim hujan, titik tumbuh berkembang menjadi rangkaian karangan bunga. Daun berwarna kuning yang kemudian gugur merupakan tanda dimulainya masa berbunga tanaman kemiri sunan.
Cara budidaya kemiri sunan

Kemiri-sunan-kultivasi
kondisi tumbuh

iklim

Kemiri sunan dapat tumbuh dengan baik hingga ketinggian 1.000 m dpl. Namun, produksi benih yang optimal dengan hasil minyak yang tinggi dicapai hingga ketinggian 700 m di atas permukaan laut. Kemiri Sunan tumbuh di daerah dengan iklim agak kering sampai lembab dengan curah hujan 1.500-2.500 mm per tahun, suhu udara 240-300 °C, kelembaban 71-88% dan waktu penyinaran lebih dari 2.000 jam/tahun. . Kemiri Sunan membutuhkan iklim dengan curah hujan sedang, bulan kering (3-4 bulan) dan tanah yang keras. Kemiri Sunan tumbuh dan berproduksi dengan baik di daerah dengan curah hujan tahunan terendah 2.681 mm di daerah Garut dan tertinggi 4.172 mm di daerah Majalengka (Supriadi et al., 2009).

negara

Kemiri Sunan membutuhkan lapisan tanah yang cukup dalam (>0,5m), tekstur tanah lempung sampai berpasir, kedalaman muka air tanah >1m dan drainase yang baik. Kemiri Sunan dapat tumbuh baik pada tanah berkapur, podsolik, latosolic, regosolic dan aluvial. Kemiri sunan akan berproduksi baik pada pH asam sampai netral dengan solum tanah yang tebal sampai agak kental asalkan drainasenya baik. Kisaran Kemiri Sunan di Jawa Barat tumbuh dan berproduksi baik pada tanah latosol, podzolik, dan andosol (Supriadi, et al., 2009).

Persiapan bahan tanam

Kemiri Sunan merupakan tanaman tahunan yang berumur panjang, sehingga diperlukan strategi khusus dalam merakit bahan tanaman yang memiliki manfaat dari segi produktivitas, kualitas hasil, dan ketahanan terhadap hama dan penyakit. Strategi pemuliaan Kemiri Sunan diadopsi setelah proses pemuliaan tanaman tahunan secara umum melalui dua strategi, jangka pendek dan jangka panjang.

Penyediaan bahan tanam jangka pendek dilakukan dalam tahapan seleksi dan penetapan blok unggul (BPT), seleksi dan penetapan pohon terpilih (PT), kemudian dibuat kebun induk dengan sumber benih dari pohon pilihan yang berasal dari BPT. Perbanyakan bahan tanam dari pohon pilihan dilakukan dengan cara vegetatif seperti okulasi untuk mendapatkan kepastian bahwa bahan tanam secara genetik mirip dengan pohon induknya. Perbanyakan bahan tanam dari biji hanya dapat dilakukan dengan menyediakan bahan tanam sebagai batang bawah. Perbanyakan bahan tanam selanjutnya dapat dilakukan dengan biji dari kebun induk.

Artikel Lainnya: 15 Cara Budidaya Kapulaga Agar Cepat Panen Dan Manfaatnya

Sejauh ini telah ditetapkan 9 BPT, yakni 7 blok di Kabupaten Majalengka dan 2 blok di Kabupaten Garut. Blok sangat produktif ditetapkan oleh Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat pada tanggal 5 April 2010 dengan nomor: 525/540/BP2MB/2010 dan nomor: 525/541/BP2MB/2010. Contoh Blok Hasil Tinggi (BPT) dan Pohon Terpilih (PT) dari Kemiri Sunan di Kabupaten Garut, Jawa Barat ditunjukkan pada Gambar 9.

Penyediaan bahan tanam jangka panjang dilakukan melalui tahapan penelitian sumber-sumber genetik baik di dalam maupun di luar negeri untuk mempertahankan tingkat keragaman genetik yang tinggi. Plasma nutfah dengan keragaman genetik yang cukup merupakan syarat penting bagi keberhasilan setiap program pemuliaan tanaman, termasuk Kemiri Sunan. Keragaman genetik yang besar akan memberikan hasil pemuliaan yang berkelanjutan, selalu merespon perubahan lingkungan, penyakit, dan tren ekonomi (Simmonds, 1984). Sebaliknya, keragaman genetik yang rendah menyebabkan kemajuan selektif yang lambat dan meningkatkan risiko krisis hama dan penyakit (Smith dan Duvick, 1988).

Pengumpulan plasma nutfah Kemiri Sunan di Indonesia telah dilakukan sejak tahun 1927 (Hamid, 1991). Koleksi plasma nutfah yang ada kemudian dikarakterisasi untuk semua sifat, baik morfologi maupun genetik. Sifat baik dan buruk kemudian dievaluasi dan diseleksi untuk mendapatkan bahan tanam yang diharapkan.

Sumber :